Skip to content
facebookpr_1143_aquila_preflight_15_sized_fin-0

Facebook Aquila Project: Pasca Ujicoba Arizona

Para raksasa di industri teknologi informasi saat ini terlibat dalam sebuah kompetisi besar bertajuk ‘internet space race’. Facebook menjadi salah satu peserta kontestasi ini. Melawan Google, SpaceX yang dimiliki Elon Musk, pun kabarnya Microsoft tak pula mau urung andil.

Kompetisi ini sebetulnya berbicara mengenai konektivitas global. Internet sudah sepatutnya menjadi penggerak utama pada era ini, mengantarkan informasi dan pengetahuan kepada siapa saja yang berhajat atasnya (Nandagopal, 2016). Pada kenyataannya, hanya sepertiga dari populasi dunia yang memiliki akses atas internet. Tiga hal yang menjadi tirai penghalang bagi setiap orang untuk menikmati internet. Yakni teknologi, keterjangkauan dan konektivitas.

Facebook mencoba mengurai halangan ini. Proyek internet gratis (Free Internet) sebetulnya merupakan salah satu inisiatif dari Internet.org, organisasi nirlaba yang diampu Facebook. Dimulai dari layanan Express Wi-Fi terrestrial di ratusan tempat di India, juga pengumuman rencana untuk meluncurkan satelit guna menghadirkan internet ke sebagian besar sub-Sahara di Afrika pada 2016. Meski begitu, rencana besar dari Internet.org dalam hal konektivitas adalah Aquila.

Aquila diinisiasi secara ambisius menyusul kekalahan Facebook dalam perseteruan memperebutkan akuisisi atas perusahaan drone, Titan Aerospace. Google memenangkan akuisisi ini dan saat ini berada satu langkah di depan dengan mimpi besar untuk menawarkan akses internet yang ditembakkan dari pesawat drone yang mampu mengudara selama lima tahun setiap kali lepas landas. Namun kekalahan dalam akuisisi Titan Aerospace ini tidak mematahkan niat Mark Zuckerberg dan perusahaannya. Maka proyek Aquila pun dijalankan.

Adalah Yael Macguire dari Facebook Connectivity Lab yang diserahi tanggung jawab atas proyek ini, dan ia menyebut proyek ini ide yang gila. Bagaimanapun, sebuah purwarupa (prototype) telah siap. Sebuah kapal udara bertenaga surya, dengan panjang sayap melebihi Boeing 737, dan dapat bertahan mengangkasa selama tiga bulan sekali lepas landas. Serta ketinggian penerbangan sekitar 60 ribu kaki, jauh lebih tinggi dari penerbangan komersial dan membuatnya tak terpengaruh cuaca.

Aquila pun diuji pada 28 Juni 2016 di Arizona, Amerika Serikat. Facebook mengklaim kesuksesan atas ujicoba drone ini. Utamanya sebab Aquila mampu mengangkasa selama 96 menit, melampaui ekspektasi awal yang hanya 30 menit. Namun siapa sangka, pada bulan November 2016 The National Safety Board (NTSB) US menginvestigasi structural failure yang ternyata dialami oleh drone tersebut pada uji cobanya yang diklaim sukses beberapa bulan silam itu.

Investigasi NTSB dan Presepsi Publik

Sebuah proyek memiliki kecenderungan yang lebih untuk terpengaruh dengan paparan dari lingkungan eksternal, jika dibandingkan dengan sebuah operasi rutin perusahaan (Anthony dan Govindarajan, 2007). Dan Facebook, secara sengaja menegaskan paparan dari lingkungan eksternal atas proyek riset dan pengembangan Aquila dengan membuatnya berada dalam sorotan publik secara luas. Yakni dengan memberitakan uji coba drone di Arizona ini kepada khalayak. Sejatinya melalui ujicoba ini, Facebook menghendaki adanya publisitas sebagai pertunjukan kekuatan terhadap para rivalnya yang kini juga berpacu mengejar tujuan yang sama. Dan itu adalah hal yang sangat wajar dalam persaingan bisnis.

Lantas, di akhir tahun 2016 structural failure yang dialami oleh drone Aquila direspon oleh NTSB melalui investigasi yang diturunkan. Pihak NTSB menyampaikan, sebagaimana dikutip oleh The Verge, bahwa tidak ada seorang pun yang mengalami luka oleh karena insiden tersebut, dan tidak ada kerusakan apapun yang ditimbulkan akibat pendaratan. Namun pihak NTSB menyatakan bahwa drone tersebut mengalami kerusakan yang cukup parah (substantially damaged).

Oleh karena telah menjadi sorotan publik, tak dapat disangkal bahwa merebaknya kabar mengenai insiden pendaratan Aquila menimbulkan keraguan atas keberlangsungan proyek Aquila. Salah satunya adalah seorang jurnalis dari media The Verge, Casey Newton. Newton mengatakan dalam laporan mengenai insiden pendaratan Aquila, bahwa sebuah kapal udara yang mengalami kerusakan cukup parah, sama artinya dengan tidak layak terbang (no longer airworthy).

Menarik untuk dirunut bahwa sebelumnya, pasca ujicoba Aquila oleh Facebook pertengahan tahun 2016, Casey Newton menerbitkan laporan pada media The Verge yang menggambarkan kesuksesan Facebook dalam melaksanakan uji coba Aquila. Setelah kabar investigasi NTSB mengemuka, Newton lantas menerbitkan tulisan yang menjelaskan mengenai insiden pendaratan yang dilewatkannya tersebut. Terlihat bahwa sang jurnalis teramat menyesali kesilapannya dan mengatakan bahwa laporan yang pernah diterbitkannya “painting too rosy a picture of Facebook’s adventures in aerospace.

Namun, mengatakan bahwa Facebook sepenuhnya menutupi insiden pendaratan Aquila dari penglihatan publik juga tidak tepat. Pasalnya, Gomez dan Cox, insinyur dalam proyek Aquila ini telah membuat sebuah tulisan mengenai ujicoba Aquila pada Facebook Code, blog milik tim engineering di Facebook. Dalam tulisan tersebut, Gomez dan Cox menulis bahwa pihak pengembang drone Aquila tengah mengadakan serangkaian analisis atas hasil pengujian, yang di dalamnya termasuk structural failure yang dialami ketika pendaratan. Hanya saja memang tidak dijelaskan secara detil perihal structural failure yang dialami Aquila.

Langkah ke Depan

Pasca pengujian drone Aquila di Arizona, tim pengembang dalam proyek merumuskan beberapa hal untuk diperbaiki. Poin-poin perbaikan tersebut disebut sebagai work packages. Anthony dan Govindarajan (2007) menyebut work packages sebagai elemen terkecil dalam sebuah struktur proyek. Ada setidaknya empat work packages yang menjadi pekerjaan tim pengembang.

Yang pertama adalah agar Aquila mendapatkan cukup matahari. Agar kapal udara bertenaga surya dapat berfungsi, energi yang cukup harus dikumpulkan pada siang hari bagi keperluan operasi selama 24 jam. Jumlah energi pesawat membutuhkan untuk daya penggerak, payload, avionik, pemanas, lampu, komunikasi, dan sistem lainnya harus kurang dari atau sama dengan yang dapat ditagkap oleh panel surya. Pada ketinggian malam hari nya 60.000 kaki, Aquila akan membutuhkan tenaga sekitar 5.000 W, atau setara tiga pengering rambut. Selama musim dingin, panel surya harus dapat mengumpulkan energi yang cukup selama hari-hari pendek untuk menjaga baterai diisi selama malam-malam panjang, hingga 14 jam pada suatu waktu.

Yang kedua mengenai baterai. Menjaga pesawat tinggi-tinggi pada malam musim dingin yang panjang membutuhkan banyak cadangan energi. Mengingat kinerja baterai saat ini beserta proyeksinya, kira-kira baterai akan mengokupasi setengah berat pesawat. Sisa berat Aquila terdiri dari motor, payload, avionik, dan struktur. Tim pengembang mengeksplorasi desain terbaik untuk memastikan sistem Aquila memiliki cukup ketahanan.

Beikutnya mengenai ukuran dan kecepatan. Aquila memiliki lebar sayap setara pesawat komersial, namun dengan berat sepertiga mobil. Rasio ini menunjukkan bahwa Aquila mampu terbang jauh lebih lambat dari pesawat dengan ukuran yang sama. Perbedaan mencolok seperti ini menantang banyak asumsi yang biasanya dipakai dalam teknik penerbangan.

Dan yang terakhir mengenai paradigma biaya baru. Agar dapat berhasil, Aquila perlu menjadi alternatif yang economically viable. Perlu dikembangkan sistem pesawat yang lebih efisien, dengan tetap memastikan ketangguhan armada kapal udara serta jangka waktu mengudara.

Tantangan Regional: Regulasi dan Politik

Berkaca pada investigasi yang dilakukan oleh NTSB atas insiden pendaratan drone Aquila pada saat uji coba, dapatlah disimpulkan bahwa intervensi pemerintah dapat membawa dampak yang cukup signifikan. Alih-alih menyebutnya sebagai sebuah hambatan. Bahkan bagi intervensi yang bersifat prosedural dan rutin. Dan hambatan regulatori, akan semakin besar manakala proyek Aquila nantinya telah terwujud dan akan segera dioperasikan.

Halangan yang bersifat regulatori, tidak kalah saing dengan hukum fisika dalam hal tantangan yang mereka sajikan. Facebook dan Google telah bekerjasama untuk berkoordinasi dengan otoritas, seperti Federal Aviation Administration, untuk memperoleh izin ujicoba penerbangan dan memperoleh akses atas spektrum yang diperlukan untuk komunikasi data.

Sebagaimana dikutip oleh Newton (2016) dalam laporannya di media The Verge, Facebook mengatakan tidak berencana untuk menggunakan Aquila untuk membangun jaringan selular sendiri. Sebaliknya, Zuckerberg mengatakan, ia ingin membuat lisensi atas teknologinya – atau bahkan memberikannya ke perusahaan telekomunikasi, pemerintah, dan organisasi nirlaba. Dalam situasi darurat, kata Mark Zuckerberg, Facebook bisa langsung saja mengirim armadanya (Aquila Fleet) ke wilayah bermasalah untuk meningkatkan akses internet untuk rumah sakit dan pusat nirlaba.

Tapi masih belum jelas bagaimana pemerintah akan menerima ide terbaru Facebook untuk menghubungkan dunia. Upaya perusahaan dalam berdiplomasi terkadang ceroboh. Belajar dari pengalaman terdahulu, bahwa regulator India memboikot layanan Free Basics, yang merupakan upaya Facebook untuk menyediakan beberapa layanan internet gratis. Alasannya, bahwa memberikan kontrol kepada perusahaan atas layanan yang termasuk di dalam Free Basics melanggar net neutrality.

Dalam kasus layanan Free Basics di India, tidak dapat dipungkiri memang, bahwa membawa lebih banyak orang ke internet, adalah cara untuk membawa lebih banyak orang ke Facebook. Dan regulator dihinggapi kekhawatiran bahwa tujuan akhir Facebook adalah menggantikan open web atas sebagian besar pengguna internet, dan di saat yang sama memanen hasil dalam bentuk dolar iklan.

Lantas seperti apa kira-kira nasib Aquila ke depan menghadapi tantangan regulasi? Sepertinya sebagian besar pemerintah negara masih akan menggunakan narasi yang sama untuk berurusan dengan proyek-proyek internet gratis semacam ini. Pemerintah cenderung mengambil langkah yang berhati-hati, lebih-lebih jika berurusan dengan wilayah udara yang jamak menjadi simbol kedaulatan. Kekhawatiran yang rasanya wajar-wajar saja atas kemungkinan ancaman spionase sepertinya masih akan mewarnai diskursus yang mengemuka di ruang publik ketika membahas respon pemerintah.

Kesimpulan

Structural failure telah terjadi dan mendapat beragam tanggapan dari publik. Pihak pengembang Aquila dari Facebook pun sepenuhnya menyadari akan insiden tersebut. Nasib proyek Aquila tentu tergantung tekad baja dari manajemen Facebook. Ada dua pilihan. Menyerah begitu saja terhadap penghakiman publik atas insiden yang terjadi pada ujicoba di Arizona. Ataukah menerima kenyataan bahwa kegagalan dalam tahap pengembangan merupakan hal yang wajar kemudian kembali melanjutkan proses riset dan pengembangan Aquila berdasarkan analisis hasil pengujian di Arizona. Mengamati karakter Mark Zuckerberg selaku CEO Facebook, nampaknya pilihan pertama adalah suatu hal yang bisa dengan mudah dieliminasi.

Tantangan terbesar yang justru dihadapi oleh Facebook dalam merealisasikan proyek Aquila adalah diplomasi politik yang harus dilakukan perusahaan terhadap pemerintah negara. Berkaca pada proyek Free Basics yang juga diinisiasi oleh Facebook sebelumnya, resistensi dari pihak pemerintah bukan sesuatu hal yang dapat dipandang remeh. Dan diplomasi Facebook atas proyek tersebut mentah di India. Sekalipun publik mengakui adanya manfaat yang diperoleh dari layanan tersebut.

Ke depan, diplomasi yang harus dilakukan Facebook atas layanan drone Aquila tentu akan jauh lebih rumit. Hal ini karena melibatkan kondisi sosiopolitik yang jauh lebih sensitif, yakni persoalan kedaulatan negara. Akan menarik menyaksikan akrobat diplomatik yang dilakukan Facebook kala proyek Aquila telah rampung diwujudkan.

 


Daftar Pustaka

Anthony, Robert N. dan Vijay Govindarajan. 2007. Management Control System Twelfth Edition. New York: Mc Graw-Hill

Edwards, Luke. 27 Maret 2015. The internet space race is on: Google Loon vs Facebook drones vs SpaceX satellites. Pocket Lint. Diakses pada 14 Desember 2016 melalui http://www.pocket-lint.com/news/131699-the-internet-space-race-is-on-google-loon-vs-facebook-drones-vs-spacex-satellites

Farrell, Sean. 21 Juli 2016. Facebook’s solar-powered internet plane takes flight. The Guardian. Diakses pada 14 Desmber 2016 melalui https://www.theguardian.com/business/2016/jul/21/facebook-solar-powered-internet-plane-test-flight-aquila

Gomez, Martin Luis, Andrew Cox. 21 Juli 2016. Flying Aquila: Early lessons from the first full-scale test flight and the path ahead. Facebook Code. Diakses pada 14 Desember 2016 melalui https://code.facebook.com/posts/268598690180189/flying-aquila-early-lessons-from-the-first-full-scale-test-flight-and-the-path-ahead/

Guynn, Jessica. 22 November 2016. Facebook Aquila drone accident under investigation. CNBC. Diakses pada 14 Desember 2016 melalui http://www.cnbc.com/2016/11/22/facebook-aquila-drone-accident-under-investigation.html

Hern, Alex. 31 Juli 2015. Facebook launches Aquila solar-powered drone for internet access. The Guardian. Diakses pada 14 Desember 2016 melalui https://www.theguardian.com/technology/2015/jul/31/facebook-finishes-aquila-solar-powered-internet-drone-with-span-of-a-boeing-737

Kelion, Leo. 11 Novermber 2015. Facebook’s laser drones v Google’s net-beaming balloons. BBC. Diakses pada 14 Desember 2016 melalui http://www.bbc.com/news/technology-34780127

Nandagopal, Rajan. 31 Januari 2016. Google’s Project Loon to Facebook Aquila: Everything you need to know about Internet from the skies. The Indian Express. Diakses pada 14 Desember 2016 melalui http://indianexpress.com/article/technology/tech-news-technology/google-project-loon-to-facebook-aquila-everything-you-need-to-know-about-internet-from-the-skies/

Newton, Casey. ———. Facebook Takes Flight. The Verge. Diakses pada 14 Desember 2016 melalui http://www.theverge.com/a/mark-zuckerberg-future-of-facebook/aquila-drone-internet

Newton, Casey. 21 November 2016. Facebook’s Aquila drone is under investigation for a structural failure. The Verge. Diakses pada 14 Desember 2016 melalui http://www.theverge.com/2016/11/21/13708512/facebook-aquila-ntsb-investgation-structural-failure

Parikh, Jay. 21 Juli 2016. Aquila’s First Flight: A Big Milestone Toward Connecting Billions of People. Facebook Newsroom. Diakses pada 14 Desember 2016 melalui http://newsroom.fb.com/news/2016/07/aquilas-first-flight-a-big-milestone-toward-connecting-billions-of-people/

Rajan, Nandagopal. 22 Oktober 2015. Internet from the skies: A bird’s eye view of Google and Facebook’s plans. The Indian Express. Diakses pada 14 Desember 2016 melalui http://indianexpress.com/article/explained/internet-from-the-skies/

———. 22 Juli 2016. Facebook’s Google Loon ‘rival’ Aquila takes flight. Gadgets Now. Diakses pada 14 Desember 2016 melalui http://www.gadgetsnow.com/tech-news/Facebooks-Google-Loon-rival-Aquila-takes-flight/articleshow/53332326.cms

———. 23 Juli 2016. Facebook’s Aquila to Project Loon: The big Internet connectivity projects. The Indian Express. Diakses pada 14 Desember 2016 melalui http://indianexpress.com/article/technology/tech-news-technology/facebook-aquila-drone-google-project-loon-the-big-internet-connectivity-projects-2931068/

———.———. Connectivity Lab. Internet.org by facebook. Diakses pada 14 Desember 2016 melalui https://info.internet.org/en/story/connectivity-lab/

Lucky mustard.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*