Skip to content
Conceptual Framework

Kerangka Konseptual dalam Pelaporan Keuangan: Sebuah Telaah Komparatif

Tertanggal September 2010, Financial Accounting Standards Board (FASB) yang berkedudukan di US menerbitkan dokumen berjudul Statement of Financial Accounting Concepts (SFAC) No. 8. Dokumen ini merupakan Kerangka Konseptual dalam Pelaporan Keuangan yang kelak akan menjadi dasar dalam pengembangan standar akuntansi yang selama ini digawangi oleh FASB, yakni Generally Accepted Accounting Principles (GAAP).

Dokumen SFAC No. 8 ini berisikan tiga chapter. Dengan dua chapter utama, yakni Chapter 1 yang berbicara mengenai tujuan dari pelaporan keuangan (The Objective of General Purpose Financial Reporting) dan Chapter 3 tentang karakteristik kualitatif dari informasi keuangan bernilai guna (Qualitative Characteristics of Useful Financial Information). Sehingga dokumen ini diterbitkan sebagai amandemen atas dokumen SFAC No. 1 dan 2 tentang kerangka konseptual dengan bahasan yang sama. Serta 1 chapter kosong yakni Chapter 2 yang dipersiapkan bagi bahasan baru dalam kerangka konseptual mengenai entitas pelaporan (The Reporting Entity).

Tertanggal September 2010 pula, International Accounting Standards Board (IASB) yang berkedudukan di UK menerbitkan dokumen berjudul Conceptual Framework for Financial Reporting 2010. Terdiri atas empat chapter, dokumen tersebut didapuk sebagai kerangka konseptual atas International Financial Reporting Standard (IFRS), standar akuntansi yang pengembangannya diampu oleh IASB.

Yang menarik adalah, tiga chapter pertama dalam kerangka konseptual ini dibuat dalam susunan dan redaksi yang mirip dengan dokumen SAFC No. 8 yang diterbitkan oleh FASB. Dapat kita amati bagaimana Chapter 1 mengenai the objective of general purpose financial reporting serta Chapter 3 mengenai qualitative characteristics of useful financial information ditulis dengan redaksional kalimat yang sama dengan SFAC No. 8. Serta Chapter 2 yang juga dilabeli to be added dengan judul the reporting entity [1], mengingatkan kita akan hal yang sama.

Hal ini dapat dipahami manakala kita menilik dalam bagian Appendix: Basis For Conclusion untuk Chapter 1 dan 3 pada kedua kerangka konsptual tersebut, diungkapkan dengan jelas bahwa dalam perkembangan penyusunan kerangka konseptual, kerjasama antara dua lembaga ini, yakni FASB dan IASB mulai dirintis [2]. Lebih jauh, hal ini memberikan sebuah isyarat akan adanya proses konvergensi antara standar akuntansi GAAP dan IFRS, atau setidaknya konvergensi pada level kerangka konseptual yang menjadi acuan pengembangan standar akuntansi oleh kedua lembaga tersebut. Setidaknya amanlah bagi kita untuk mengatakan bahwa telah ada kesepakatan antara IASB dan FASB terkait aspek tujuan pelaporan keuangan dan karakteristik kualitatif informasi keuangan dalam kerangka konseptual.

Perbedaan-perbedaan mulai dapat diidentifikasi manakala kita melihat pada aspek-aspek lain dalam kerangka koseptual selain dari tujuan pelaporan keuangan dan karakteristik kualitiatif informasi keuangan. Yakni dalam hal unsur-unsur dalam laporan keuangan serta konsep-konsep pengakuan, pengukuran dan penyajian. Selain itu, perbedaan juga dapat dijumpai manakala kita membandingkan susunan dari kedua kerangka konseptual tersebut.

Unsur-Unsur Laporan Keuangan.

Elements of Financial Statements dijelaskan dalam chapter 4 [3] Conceptual Framework for Financial Reporting terbitan IASB. Sedangkan dalam SFAC, pembahasan mengenai hal ini terdapat dalam dokumen No. 6 yang terbit pada Desember 1985.

Conceptual Framework for Financial Reporting merinci ada 5 unsur dalam laporan keuangan. Yakni Assets, Liabilities, Equity, Income, dan Expenses. Dalam hal ini, kelima unsur tersebut dibagi ke dalam du kelompok. Yang pertama adalah unsur-unsur yang berkaitan secara langsung pada pengukuran posisi keuangan di neraca, terdiri atas Assets, Liabilities dan Equity. Dan yang kedua adalah unsur-unsur yang berkaitan secara langsung dengan pengukuran kinerja pada income statement, yaitu Income dan Expenses.

Di sisi lain, SFAC No. 6 menyebutkan ada 10 unsur dalam laporan keuangan. 3 unsur yang berkaitan secara langsung pada pengukuran posisi keuangan di neraca, terdiri atas Assets, Liabilities dan Equity. Serta 7 unsur lainnya yang menggambarkan beragam transaksi, kejadian, serta keadaan yang mempengaruhi suatu entitas dalam satu periode. Terdiri atas Investments by Owners, Distributions to Owners, Comprehensive Income, Revenues, Expenses, Gains dan Losses.

Di sini kita melihat bagaimana FASB melakukan dikotomi secara lebih rinci atas akun-akun non neraca. Hal ini berkaitan dengan Concepts of Capital Maintenance. Yaitu adanya keperluan untuk memisahkan antara return on capital dari return from capital, sebab pada kosepnya ROE hanya akan diukur dari selisih lebih pemasukan dari jumlah biaya untuk mengelola modal.

Ada dua konsep dalam pengelolaan modal, yakni konsep modal finansial dan konsep modal fisik (financial capital concept and physical capital concept). Perbedaan dari kedua konsep tersebut berhubungan dengan pengaruh dari perubahan nilai aset dan kewajiban dalam satu periode. Dalam konsep modal finansial, yang merupakan pendekatan tradisional, perubahan nilai ini akan diakui sebagai gains and losses dan disertakan dalam return on capital. Sedangkan di konsep modal fisik perubahan ini hanya akan berpengaruh langsung pada ekuitas dan tidak disertakan dalam return on capital. Laba/rugi komprehensif dalam SAFC GAAP merupakan return on financial capital [4].

Konsep-Konsep Pengakuan, Pengukuran dan Penyajian

Konsep-konsep pengakuan, pengukuran dan penyajian dijelaskan dalam chapter 4 Conceptual Framework for Financial Reporting terbitan IASB [5]. Sedangkan dalam SFAC, pembahasan mengenai hal ini terdapat dalam dokumen No. 5 yang terbit pada Desember 1984 dengan judul Recognition and Measurement in Financial Statements of Business Enterprises. Konsep-konsep tersebut, oleh Kieso, Weygandt dan Warfield [6] diidentifikasi ke dalam 3 bagian, yakni asumsi dasar (basic assumptions), prinsip-prinsip (principles), dan cost constrain.

Terkait asumsi dasar, Conceptual Framework hanya menyebutkan satu asumsi dasar secara gamblang, yakni going concern [7]. Artinya laporan keuangan dibuat dengan asumsi bahwa sebuah entitas akan terus beroperasi secara berkelanjutan dalam jangka waktu ke depan (foreseeable future). Sedangkan SFAC dalam seluruh rilisnya, tidak satupun membuat satu bagian khusus yang membahas mengenai asumsi dasar ini.

Namun, untuk kerangka konseptual US GAAP Kieso [8] memberikan empat asumsi dasar yakni entitas ekonomi (economic entity), keberlangsungan (going concern) unit moneter (monetary unit) [9], dan periodisitas (periodicity). Sedangkan untuk kerangka konsptual IFRS, Kieso [10] menambahkan 4 asumsi dasar lain yakni entitas ekonomi (economic entity), unit moneter (monetary unit) dan periodisitas (periodicity), serta satu asumsi dasar tambahan yang membedakan dengan kerangka konseptual US GAAP yakni akrual (accrual) [11].

Berkaitan dengan prinsip-prinsip, ada 4 hal yang menjadi pokok pembahasan dalam kerangka konseptual. Yakni mengenai pengukuran (measurement), pengakuan pendapatan dan biaya (revenue and cost recognition) serta penyajian secara utuh (full disclosure). Tidak ada perbedaan di antara kedua kerangka konseptual berkaitan dengan prinsip pengakuan serta penyajian.

Namun manakala kita menilik prinsip yang berkaitan dengan pengukuran (measurement), akan kita jumpai perbedaan antara kedua kerangka konseptual ini. Kerangka konseptual IFRS menyebutkan ada 4 basis dalam pengukuran, yakni historical cost, current cost, realizable (settlement) value, dan present value [12]. Sementara kerangka konseptual U.S. GAAP menyebutkan ada 5 basis dalam pengukuran, yakni historical cost, current cost, current market value, net realizable (settlement) value, dan present (or discounted) value of future cash flows [13].

Yang terakhir adalah konsepsi tentang cost constrain. Pernyataan mengenai cost constrain ini tersebut dalam chapter 3 dari kedua kerangka konseptual tersebut, yang memberikan batasan kepada entitas mengenai pertimbangan biaya atas penyajian sebuah informasi dalam laporan keuangan. Artinya, biaya yang dikeluarkan entitas pelaporan untuk penyajian sebuah informasi keuangan harus sebanding dengan manfaat yang akan diperoleh. [14]

Mencermati Susunan Kerangka Konseptual

Hal pertama yang menarik untuk dicermati dalam membandingkan susunan antara kedua kerangka konseptual adalah bahwa U.S. GAAP memiliki SFAC dalam kerangka konseptualnya yang berbicara mengenai perkiraan nilai wajar, apabila data yang berkaitan dengan pasar tidak tersedia. Yaitu dalam SFAC No. 7 berjudul Using Cash Flow Informatio and Present Value in Accounting Measurements. Sementra IASB berbicara mengenai hal ini dalam standar akuntansi IFRS No 13 mengenai fair value standard, yang meskipun bukan merupakan bagian dari kerangka konseptual, namun konvergen dengan U.S. GAAP.

Selain itu, dalam SFAC No. 5 tentang Recognition and Measurement in Financial Statements of Business Enterprises, dikupas pula seluk beluk dari laporan keuangan (financial statements). Antara lain berbicara mengenai keterkaitan antara laporan keuangan dengan tujuan dari seluruh kegiatan pelaporan keuangan dan bagaimana kegunaan serta batasan-batasan dari sebuah laporan keuangan. Selain itu tentu saja, terdapat pula penjelasan mengenai tiap-tiap bentuk laporan keuangan secara individual, termasuk di dalamnya mengenai laporan laba rugi komprehensif.


 

[1] Dalam dokumen Exposure Draft no. ED/2015/3 Conceptual Framework for Financial Reporting tertanggal Mei 2015 terbitan IASB, rancangan bab berjudul the reporting entity pada terbitan 2010, disusun menjadi Chapter 3 dalam draft tersebut, dengan judul Financial Statements and the Reporting Entity. Chapter ini berbicara antara lain mengenai peranan pelaporan keuangan berkaitan dengan asumsi keberlangsungan (going concern) sebuah entitas, serta sifat entitas pelaporan utamanya yang berkaitan dengan kontrol entitas (misalnya atas anak perusahaan). Sedangkan aspek karakteristik kualitatif berpindah menjadi Chapter 2. Exposure Draft ini dapat diunduh melalui tautan http://www.ifrs.org/Current-Projects/IASB-Projects/Conceptual-Framework/Documents/May%202015/ED_CF_MAY%202015.pdf

[2] Lebih lanjut dalam dokumen Basis for Conclusions Exposure Draft no. ED/2015/3 Conceptual Framework for Financial Reporting tertanggal Mei 2015 yang diterbitkan IASB, dapatlah kita ketahui bahwa pada tahun 2004 IASB dan FASB memulai sebuah joint-project yang bertujuan untuk melakukan revisi atas kerangka konseptual mereka. Hingga pada akhirnya di tahun 2010 terbitlah 2 chapter dari kerangka konseptual sebagaimana telah kita bicarakan sebelumnya. Namun di tahun yang sama pula proyek ini ditunda untuk sementara waktu dan kedua lembaga memilih untuk focus pada proyek-proyek yang lain. Basis for Conclusions Exposure Draft ini dapat diunduh melalui tautan http://www.ifrs.org/Current-Projects/IASB-Projects/Conceptual-Framework/Documents/May%202015/Basis-to-ED_CF_MAY%202015.pdf

[3] Chapter 4 Conceptual Framework for Financial Reporting terbitan IASB berisi bagian-bagian dari dokumen The Framework yang belum dibahas  dalam amandemen terakhir keangka konseptual yang diterbitkan pada tahun 2010. The Framework sendiri merupakan sebuah kerangka konseptual pelaporan keuangan yang diterbitkan oleh IASB pada tahun 1989.

[4] Lihat SFAC No. 6 tentang Elements of Financial Statements paragraf 71-72

[5] Penjelasan terkait hal ini terbagi dalam 3 bagian di chapter 4. Yakni mengenai Underlying assumption di paragraf 4.1, Recognition of the elements of financial statements pada paragraf 4.37-4.53, dan Measurement of the elements of financial statements pada paragraf 4.54-4.56.

[6] Intermediate Accounting 15th Edition, 2013 yang berbasis US GAAP maupun Intermediate Accounting IFRS Edition 2nd Edition, 2011

[7] Conceptual Framework for Financial Reporting Chapter 4 paragraf 4.1

[8] Intermediate Accounting 15th Edition, 2013

[9] Didasarkan pada Statement of Financial Accounting Concepts No. 5 paragraf 71-72

[10] Intermediate Accounting IFRS Edition 2nd Edition, 2011

[11] Kieso menambahkan asumsi dasar akrual berdasarkan pada dokumen The Conceptual Framework for Financial Reporting Chapter 1 mengenai the objective of general purpose financial reporting paragraf OB 17 yang menyatakan bahwa informasi mengenai kondisi dan perubahan atas economic resources and claims memberikan dasar yang lebih baik dalam menilai kinerja entitas dibandingkan penerimaan dan pengeluaran kas.  

[12] Conceptual Framework for Financial Reporting Chapter 4 paragraf 4.55

[13] Statement of Financial Accounting Concepts No. 5 tentang Recognition and Measurement in Financial Statements of Business Enterprises paragraf 67

[14] SFAC No. 8 Chapter 3 paragraf QC35 serta Chapter 3 Conceptual Framework for Financial Reporting juga pada paragraf QC35

Lucky mustard.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*