Skip to content

Laporan Audit WTP dengan Paragraf Penjelas atau Modifikasi Kalimat

Arens (2012) menyebutkan setidaknya ada lima penyebab adanya penambahan paragraf penjelas maupun modifikasi kalimat:

  1. Kurangnya penerapan standar akuntansi keuangan yang berlaku umum secara konsisten
  2. Keraguan substansial akan asumsi keberlanjutan (gong concern) entitas
  3. Auditor menyetujui penyimpangan dari prinsip akuntansi yang berlaku umum
  4. Penekanan akan sebuah permasalahan
  5. Laporan melibatkan auditor lain

Masih menurut Arens (2012) keempat penyebab pertama tadi mensyaratkan pemberian paragraf penjelas. Paragraf penjelas ditulis pada sebuah paragraf terpisah, setelah 3 (tiga) paragraf standar laporan hasil audit tanpa adanya modifikasi. Hanya pada laporan yang melibatkan auditor lain diterapkan modifikasi kalimat. Laporan jenis ini terdiri atas 3 (tiga) paragraf standar laporan hasil audit, dan ketiganya diberikan modifikasi kalimat.

Auditor diharuskan untuk menaruh perhatian pada inkonsistensi atas penerapan prinsip akuntasi jika dibandingkan periode sebelumnya. Ketika perubahan prinsip terjadi secara material auditor harus memodifikasi laporannya dengan menambahkan paragraf penjelas. Meski begitu, perubahan ini dibedakan menjadi dua, yakni perubahan yang berpengaruh pada konsistensi dan komparabilitas. Perubahan yang berpengaruh pada konsistensi mensyaratkan pemberian pargrf penjelas, namun tidak demikian dengan perubahan yang hanya berpengaruh pada komparabilitas.

Selanjutnya, sekalipun tujuan dari pelaksanaan audit adalah evaluasi akan kesehatan finansial sebuah entitas, auditor memiliki kewajiban, berdasarkan pada standar audit, untuk melakukan evaluasi berkaitan dengan asumsi keberlanjutan (going concern) entitas. Manakala auditor menyimpulkan sebuah keraguan yang substansial atas asumsi keberlanjutan sebuah entitas, opini wajar dengan paragraf penjelas harus diberikan, tanpa mempertimbangkan penyajian akan informasi tersebut dalam laporan keuangan.

Rule 203 dalam Code of Professional Conduct AICPA sebagaimana dikutip oleh Arens (2012) menyatakan bahwa dalam situasi tertentu, suatu penyimpangan dari standar akuntansi yang berlaku umum tidak dapat diberikan opini wajar dengan pengecualian maupun tidak wajar. Maka dari itu, sebagai dasar atas pemberian opini wajar tanpa pengecualian, auditor harus menerima, serta memberikan uraian dan penjelasan dalam paragraf terpisah, mengenai kemungkinan adanya misleading sebagai akibat dari ketidaksesuaian penyusunan laporan keuangan dengan standar akuntansi yang berlaku umum tersebut.

Selain itu, dalam beberapa kasus, auditor menghendaki sebuah penekanan akan suatu permasalahan sekalipun opini wajar tanpa pengecualian diberikan. Hal ini dapat disampaikan dalam sebuah paragraf penjelas yang terpisah.

Yang terakhir ialah apabila seorang CPA bekerjasama dengan firma CPA yang berbeda untuk melaksanakan sebagian dari kegiatan audit. Ada tiga kondisi yang mungkin berkaitan dengan hal ini. Yang pertama adalah jika CPA utama memberikan referensi dalam laporannya, misalnya dalam keadaan yang tida memungkinkan bagi CPA utama untuk melakukan reviu atas hasil audit CPA kedua maupun dalam keadaan porsi kegiatan audit yang dilakukan oleh CPA kedua cukup material. Maka hal ini mengharuskan adanya modifikasi kalimat dalam laporan hasil audit. Berbeda dengan dua kondisi selanjutnya, yakni bila CPA utama tidak memberikan referensi dalam laporan hasil auditnya maupun apabila opini dari CPA kedua dikecualikan, modifikasi kalimat dalam laporan hasil audit tidak perlu dilakukan.

Lucky mustard.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*