Skip to content
photo-1444564689166-44a27b01716f

Materialitas

Materialitas, menurut Arens (2012), memberikan pertimbangan yang cukup esensial dalam menentukan jenis laporan yang diberikan berdasarkan kondisi-kondisi tertentu. Lebih lanjut Arens memberikan definisi berkaitan dengan materialitas sebagai, kesalahan dalam pelaporan keuangan yang apabila diketahui akan memberikan pengaruh pada pengambilan keputusan oleh pengguna. Menerapkan definisi ini, 3 (tiga) tingkatan dalam menilai materialitas digunakan dalam menentukan jenis opini untuk diberikan:

  1. Jumlahnya tidak material. Artinya terdapat kesalahan namun sangat kecil pengaruhnya pada pengambilan keputusan. Maka opini wajar tanpa pengecualian masih layak disematkan.
  2. Jumlah yang material namun tidak mempengaruhi kewajaran pelaporan keuangan secara keseluruhan. Perlu diperhatikan bahwa dalam membuat keputusan berkaitan dengan materialitas, auditor perlu melakukan evaluasi atas laporan keuangan secara keseluruhan. Dan jika disimpulkan bahwa kesalahan yang ditemukan sifatnya material namun tidak mempengaruhi kewajaran laporan keuangan secara keseluruhan, maka opini wajar dengan pengecualian dapat diberikan.
  3. Jumlah yang material dan sangat besar hingga kewajaran atas laporan secara keseluruhan dipertanyakan. Inilah level tertinggi dari sebuah materialitas, yakni manakala besar kemungkinan pengguna akan membuat keputusan yang salah bila mengandalkan informasi dalam laporan keuangan secara keseluruhan. Sehingga dalam menentukan tingkat materialitas, adalah penting untuk menganalisis sejauh mana dampak (pervasiveness) dari sebuah kesalahan terhadap bagian-bagian yang lain dalam laporan keuangan.

Konsep materialitas ini, jika dikaitkan dengan ketidaksesuaian dengan standar akuntansi yang berlaku umum, akan dihadapkan pada beberapa aspek yang perlu menjadi pertimbangan:

  1. jumlah nilai mata uang dibandingkan dengan sebuah dasar
  2. kemampuan pengukuran (measurability), dan
  3. sifat bawaan (nature) dari unsur laporan keuangan.

Dan jika konsep materialitas ini dikaitkan dengan adanya kondisi pembatasan ruang lingkup, laporan audit dapat diberikan opini WTP, WDP pada opini maupun ruang lingkup, hingga tidak menyatakan pendapat (disclaimer) bergantung pada materialitas pembatasan ruang lingkup. Evaluasi atas materialitas dari potensi kesalahan yang berasal dari pembatasan ruang lingkup lebih sulit dibandingkan dengan ketidaksesuaian dengan standar audit. Sehingga pada umumnya materialitas ini diukur secara subjektif berkaitan dengan potensi kesalahan yang ditimbulkan.

Lucky mustard.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*