Skip to content
photo-1448932223592-d1fc686e76ea

Mempercayakan Data Negara kepada Pihak Ketiga: Analisis Kesepakatan Layanan (Terms of Service)

Laudon & Laudon (2016:92) mengungkapkan bahwa budaya kolaboratif yang berorientasi pada tim tidak akan menghasilkan manfaat tanpa hadirnya sistem informasi yang menjadi perantara bagi kolaborasi dan bisnis sosial (collaboration and social business). Oleh sebab itulah, penggunaan teknologi layanan kolaborasi dan bisnis sosial jamak digunakan. Tidak hanya di sektor komersial, tren ini juga merambah sektor publik.

Hanya saja, satu hal yang teramat perlu menjadi perhatian utama sebelum diambilnya keputusan mengenai penggunaan platform perangkat lunak untuk keperluan kolaborasi bisnis. Yakni berkaitan dengan hak apa yang dimiliki oleh pihak ketiga atas lalu lintas data, juga data yang disimpan.

Hal ini biasanya termuat dalam klausul perjanjian yang disetujui oleh pengguna ketika hendak menggunakan sebuah layanan. Perjanjian ini jamak disebut sebagai terms and condition serta privacy policy. Artinya, meskipun tidak ada biaya yang dibebankan oleh penyedia layanan pihak ketiga kepada para pengguna layanan, hubungan transaksional antara kedua pihak bukannya absen. Namun, pengguna layanan acapkali abai pada klausul-klausul dalam perjanjian yang, untuk menyatakan kesediaan atasnya pengguna hanya perlu memberikan centang dan klik tombol setuju.

Sungguh menarik menyimak tulisan Goodson (2012) dalam media daring Forbes yang berjudul “If You’re Not Paying for It, You Become the Product”, atau terjemah bebasnya kira-kira berbunyi, jika Anda tidak dipungut biaya atas satu layanan, maka bisa jadi Andalah produknya. Artikel tersebut menyitir Google, raksasa di bidang teknologi informasi berbasis mesin pencari. Kala itu, raksasa internet ini mulai beroperasi di bawah privacy policy baru yang memungkinkan Google untuk menggali lebih dalam ke kehidupan pribadi penggunanya. Hal ini utamanya demi kepentingan optimasi layanan iklan Google, pundi-pundi primer pendapatan tahunan Google.

Hingga saat tulisan ini dibuat (2016), Google masih beroperasi dengan kebijakan privasi yang sama, pada keseluruhan layanan yang diberikannya. Beberapa layanan Google memungkinkan pengguna untuk mengunggah (upload), menyerahkan (submit), menyimpan (store), mengirim (send) maupun menerima (receive) konten. Berdasarkan Terms of Service Google, pengguna tetap memegang kepemilikan hak atas kekayaan intelektual konten tersebut. Namun demikian, dengan melakukan hal-hal tersebut di atas melalui layanan Google, pengguna telah memberikan worldwide license bagi Google atas banyak hal. Yakni sebagaimana diungkapkan dalam ToS, use, host, store, reproduce, modify, create derivative works, communicate, publish, publicly perform, publicly display serta distribute.

Bagaimanapun, hak yang diberikan pengguna dalam lisensi ini, adalah dalam koridor tujuan yang terbatas. Di antaranya untuk kepentingan pengoperasian, promosi, serta peningkatan layanan maupun pembuatan layanan yang baru oleh Google. Lisensi ini tetap berlaku sekalipun pengguna telah berhenti menggunakan layanan Google.

Kali ini, pembahasan akan dilakukan atas tiga jenis teknologi kolaborasi dan bisnis sosial yang jamak digunakan dalam kegiatan kedinasan sehari-hari di pemerintahan. Yakni Instant Messaging, E-Mail, serta Cloud Collaboration Service. Pembahasan akan dilakukan dengan melakukan analisis atas Terms of Use yang diberikan oleh penyedia layanan dan harus disetujui oleh pengguna manakala berkehendak untuk menggunakan layanan tersebut.

Instant Messaging (IM)

Salah satu layanan instant messaging yang jamak digunakan adalah WhatsApp. WhatsApp memberikan layanan pesan instan melalui gawai (gadget) pengguna yang umumnya berbasis ponsel pintar.

Berdasarkan Privacy Policy WhatsApp per 25 Agustus 2016 dalam dokumen WhatsApp Legal Info, dinyatakan bahwa WhatsApp tidak mempertahankan pesan yang dikirim oleh pengguna. Dengan kata lain, manakala pesan yang dikirimkan oleh pengguna telah terkirim kepada tujuan, maka seketika itu pesan tersebut akan dihapus dari peladen (server) WhatsApp. Meski begitu, bilamana oleh beragam penyebab sebuah pesan tidak dapat terkirim seketika, WhatsApp beroleh hak untuk menyimpan pesan tersebut dalam peladen hingga 30 hari, seraya upaya pengiriman pesan terus dilakukan. Dan akan dihapus bila jangka waktu 30 hari tersebut terlewati.

Di samping itu, dalam dokumen yang sama dinyatakan pula bahwa WhatsApp beroleh hak untuk mempertahankan dalam jangka waktu yang lebih lama, suatu konten tertentu di dalam peladen. Konten tertentu yang dimaksud di sini misalnya foto maupun video populer yang dibagikan oleh banyak pengguna WhatsApp. WhatsApp menyatakan hal ini demi alasan peningkatan performa serta pengiriman pesan media secara lebih efisien.

Dalam rilis pembaharuan aplikasi WhatsApp per 2 April 2016, WhatsApp menawarkan layanan end-to-end encryption yang secara default akan menyala. End-to-end encryption berarti pesan yang dikirim oleh pengguna akan dienkripsi, untuk melindungi konten pesan dari pihak WhatsApp sendiri maupun pihak ketiga lain yang hendak membacanya.

Penting untuk diketahui, bahwa pada tahun 2014, WhatsApp bergabung dalam jajaran keluarga besar perusahaan Facebook, sebuah platform media sosial yang sangat populer di masyarakat. Sejak saat itu, maka layanan pesan instan yang disediakan oleh WhatsApp menjadi tidak berbayar, setelah sebelumnya pengguna dikutip biaya sebesar hanya US$ 1 per tahunnya. Di sisi lain, akuisisi WhatsApp oleh Facebook tentu saja akan berpengaruh pada kebijakan WhatsApp atas penggunaan data dan informasi yang diberikan oleh pengguna. Pengguna WhatsApp yang memiliki akun di media sosial Facebook, misalnya, tidak perlu heran bilamana pada Timeline Facebook miliknya tiba-tiba terselip iklan mengenai obat penumbuh rambut, hanya karena suaminya baru saja mengeluhkan masalah kebotakan via pesan instan WhatsApp. Hal ini disebabkan, demi personalisasi layanan iklan Facebook, WhatsApp membagikan data percakapan pengguna kepada Facebook.

Hal ini berlangsung hingga pada bulan Agustus 2016, pada akhirnya WhatsApp mengambil kebijakan untuk memberikan pilihan bagi pengguna untuk menerima maupun menolak pembaruan Terms and Privacy Policy WhatsApp. Utamanya, yang berkaitan dengan pembagian informasi akun WhatsApp kepada Facebook untuk keperluan optimasi layanan iklan. Pengguna diberikan jangka waktu 30 hari untuk melakukan reviu ulang atas kebijakan layanan ini. Sehingga, layanan pesan instan WhatsApp relatif aman digunakan bagi keperluan kedinasan, jika pengguna membatasi pembgian konten WhatsApp kepada pihak Facebook.

Surat Elektronik (E-Mail)

Sebelumnya, telah dijelaskan mengenai ToS dari layanan yang diberikan oleh Google. Salah satu layanan dari Google dengan penggunaan yang berskala besar adalah layanan surel (E-Mail). Layanan surel Google hadir bertajuk Google Mail (Gmail). Daya tarik utama dari Gmail adalah kapasitas surel yang cukup besar sehingga memberikan keleluasaan lebih bagi pengguna. Tak ayal, Gmail banyak diminati oleh pengguna personal termasuk di dalamnya adalah pegawai di sektor pemerintahan untuk menjalankan kegiatan kedinasannya.

Hal inilah yang lantas menjadi sesuatu yang menarik. Dalam paparan di atas telah dijelaskan bahwa pengguna Google, utamanya pengguna personal tidak berbayar, telah memberikan Google sebuah lisensi dengan hak yang sangat ekstensif. Sementara, dalam kegiatan kedinasannya, seorang aparatur sipil negara akan memanfaatkan surel sebagai media lalu lintas data yang dalam banyak kesempatan, tentu melibatkan informasi kenegaraan yang sifatnya rahasia.

Berbeda halnya dengan Yahoo. Dalam dokumen Yahoo Terms of Service, disebutkan mengenai klausul kesepakatan pengguna atas konten yang diserahkan maupun disediakan sebagai inklusi dalam layanan Yahoo (Content Submitted or Made Available for Inclusion on the Yahoo Services). Yahoo beroleh hak dari pengguna untuk menggunakan (use), menyebarkan (distribute), reproduksi (reproduce), mengubah (modify), adaptasi (adapt), publicly perform serta publicly display atas konten yang diserahkan oleh pengguna pada area layanan Yahoo yang publicly accessible.

Dalam hal ini, layanan surel yang diberikan Yahoo lebih melindungi informasi yang diberikan oleh pengguna. Sebab Yahoo hanya memiliki hak yang sifatnya ekstensif pada konten-konten yang dibagikan di area layanan Yahoo yang bersifat publicly accessible. Sehingga layanan surel tidak berbayar dari Yahoo relatif lebih aman untuk digunakan.

Namun, tentu surel resmi kedinasan tetap menjadi rekomendasi utama. Pasalnya, tidak banyak syarat yang diperlukan bagi seseorang untuk dapat mendaftarkan sebuah akun pada layanan surel tidak berbayar. Artinya, setiap orang dapat mengesankan dirinya sebagai siapapun. Hal ini merupakan celah keamanan bagi munculnya kejahatan siber berupa social engineering. Berbeda dengan surel resmi kedinasan dengan domain instansi resmi pemerintahan yang memiliki pengguna terbatas pada pegawai resmi instansi. Hal inilah yang kemudian menjadikan surel resmi kedinasan memberikan legitimasi yang tidak dapat diberikan oleh layanan surel tidak berbayar.

Cloud Collaboration Service

Bhardwaj, et al (2010) menyebut bahwa komputasi awan dapat hadir dalam 3 (tiga) bentuk layanan, yakni software as a service (SaaS), platform as a service (PaaS), maupun infrastructure as a service (IaaS). Cloud Collaboration Service umumnya hadir sebagai layanan berupa software as a service (SaaS). Ide dari SaaS adalah bahwa pihak ketiga dapat memberikan tawaran kepada pengguna berupa perangkat lunak (yang tentu saja berjalan di atas platform dan infrastruktur tertentu) yang dapat dimanfaatkan. Ada dua layanan kolaborasi awan yang jamak digunakan sebagai media berbagi berkas. Yakni Google Drive dan Dropbox.

Google Drive, sebagaimana layanan Google lainnya, memberikan hak ekstensif atas konten yang diunggah oleh pengguna. Meliputi use, host, store, reproduce, modify, create derivative works, communicate, publish, publicly perform, publicly display serta distribute.

Dropbox lebih menjaga konten yang diberikan oleh pengguna. Dalam dokumen Terms of Service per 22 Januari 2015, Dropbox menyatakan bahwa konten yang diserahkan oleh pengguna adalah milik pengguna. ToS tersebut tidak memberikan hak apapun kepada Dropbox atas konten yang diserahkan pengguna melainkan hak yang terbatas yang memungkinkan Dropbox memberikan layanan kepada pengguna. Dropbox memerlukan izin dari pengguna untuk hosting, backup, dan sharing jika pengguna menghendaki Dropbox untuk melakukan hal tersebut.

References

Laudon, Kenneth C, Jane P. Laudon (2016). Management Information Systems: Managing The Digital Firm 14th ed. Pearson Education Ltd.

Awad, Naveen Farag, Krishnan (2006). “The Personalization Privacy Paradox: An Empirical Evaluation of Information Transparency and The Willingness to Be Profiled Online for Personalization”. MIS Quarterly. Diakses pada tanggal 15 September 2016 melalui http://www.jstor.org/stable/25148715

Jensen, Carlos, et. al. (2005). “Privacy practices of Internet users: Self-reports versus observed behavior.” International Journal of Human-Computer Studies. Diakses pada tanggal 15 September 2016 melalui http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1071581905000650

Goodson, Scott (2012). “If You’re Not Paying for It, You Become the Product.” Forbes. Diakses pada tanggal 15 September 2016 melalui http://www.forbes.com/sites/marketshare/2012/03/05/if-youre-not-paying-for-it-you-become-the-product/

Bhardwaj, Sushil, et.al. 2010. Cloud Computing: A Study of Infrastructure as a Service (IaaS). International Journal of Engineering and Information Technology. Diakses pada tanggal 8 September 2016 melalui http://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/7299777/cloud%20computing%20a%20study%20of.pdf?AWSAccessKeyId=AKIAJ56TQJRTWSMTNPEA&Expires=1473342526&Signature=o3r39L2DQDwQh%2FwYYIrQ1Vom1bc%3D&response-content-disposition=inline%3B%20filename%3DCloud_computing_A_study_of_infrastructur.pdf

—– (2016). Dropbox Privacy Policy. Dropbox. Diakses pada tanggal 15 September 2016 melalui https://www.dropbox.com/privacy

—– (2016). Google Terms of Service. Google Privacy & Terms. Diakses pada tanggal 15 September 2016 melalui https://www.google.com/intl/en/policies/terms/

—– (2016). Google Privacy Policy. Google Privacy & Terms. Diakses pada tanggal 15 September 2016 melalui https://www.google.com/intl/en/policies/privacy/

—– (2016). WhatsApp Legal Info. WhatsApp. Diakses pada tanggal 15 September 2016 melalui https://www.whatsapp.com/legal/

—– (2012). Yahoo Terms of Service. Yahoo. Diakses pada tanggal 15 September 2016 melalui https://policies.yahoo.com/us/en/yahoo/terms/utos/

Lucky mustard.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*